Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Friday, March 18, 2011

serpihan

Sunday, February 27, 2011

Frekwensi Rahmat

yang merumus debu rempah di Marikh
yang menyemai bunga di Zuhrah

yang menurun tangisan di Neptun
yang mengkecamuk nafas di Musytari

semayam Maha Tinggi
geranyam jari jemari

yang melukis dua muka
pada Apollo dan Hermes

itulah Allah
menyambung bintang,
dilambung mawar serinya malam.

Tuesday, February 22, 2011

Petir Putih

seperti petir putih
yang datangnya
dalam biru langit berawan

  dan pasti sebentar
  silau mentari pergi
  menjengah tiba
             gelora ribut dan hujan

             senyuman yang dingin
                             dan rambut dihinggap cahaya
                            bagaikan petir putih;

                            terdetik kejut dihatiku
                                     pastikan tiba
                                mendung tak bertepi

Monday, February 7, 2011

21

tumbuhnya hutan
dari benih yang merah
digenang suram langit
disapa pilu bintang

tidurnya hati
kadang sakit terjerut nafsi
dihambat gerun laut
tenang rimbun dambaan nyawa

bermimpi hidup saujana
di arah liku menuju tangga

dan masihkah,
sejauh seroja
setinggi bima

satu dan puluh dua
ribu mata hariku
lagi,adakah ada
sepusing jangka yang melawat diri.

Monday, January 31, 2011

Tesis Ombak

kelabu bisikan air
tanpa silau spektrum pasir
di atas tebing,
angin rindu dari masa lalu


dari jauh
raungan ombak mengaduh
kelacuran jangkanya
dihambat kering awan gelap,
menutup hari


kalakian biru nyawanya

membunting juta
makin kini tersoyak pergi
kelengar dari azabnya
mentari.

Sunday, January 30, 2011

Fragmen Sesalan

birai rapuh disisi jambatan
menggusar niatku untuk melintas
laluan ini,
untuk mengejar bayang-bayangmu

walau dari seberang itu jua;
tempat datangnya aku
setelah pergi mencari makan
sepuluh tahun,
yang lekasnya bagai sekilas

setelah laut aku renangi
setelah gaung aku langkaui
masih,gagal ku temu
sedikit jiwa
untuk menduga sungai kasihmu.

andainya aku yang dahulu
mengerti maksud dalam senyuman


akan ku bina seribu tangga
dari janji dan cahaya
supaya tidak terasa jangka nantimu,
yang meminta daku,
dekat padamu.

Friday, January 28, 2011

Xerofit Cinta

suainya tanah takkan menipu
betapa benci dikau padaku
yang menagih-nagih;
titisan kasih darimu

malam tanpa tidurku
dililit akar kata-katamu
yang menusuk mimpi;
terdapat decitan dihujung bibirmu

dibiar sendiri di alam gersang
persada kosong pentas hati
menanti intai renung tajammu
berpaling lagi pada diriku

sebelas abad bisa kan lalu
tanpa sedikit kilas wajahmu
namun aku,Xerofit cinta
walau kiamat melambai tiba
masih berharap
dalam diam lenaku
muncul kamu dalam mimpiku.

Jeritan Yang Pudar

Terhentinya madah
setelah akhir,terbenam matahari
merenung padaku dengan tajam
kekeliruan dan kekecewaan
apabila hati diperdaya ilusi-ilusi kaleidoskop
mata dan rohku kini meronta
dalam lembayung kesayuan dan kesakitan

laksana guruh petir menyambar
hasratku,harapanku,mustahil bisa terkabul
kau yang menyalut kewujudanmu di angkasa
tidak tercapai
dan bulan yang hitam
dibayangi awan
merenung padaku dengan benci

Jeritanku yang kabur
tidak bergema,tidak disedari
aku diperangkap dalam lembah gelap
buta mataku,kelu lidahku
menanti saat mengalir
aku jatuh tersungkur dalam kelemahan sendiri
langsung lenyap dalam kabus tebal

Telah tiada lagi suria akan terbit
melainkan menyinari dikit,jari yang ketar ini
sebuah gerhana yang memilukan
betapa dengki dan cemburu
pada dirimu,penghuni dunia cahaya
aku melarang langsung,kini
dari hinggap di hati cinta dan damai

Lenyaplah jiwa dari kekesalan dunia
lebur bersama
bunga yang mati di pinggir jalan
dan siapa kan sedari,
siapa kan peduli
kerana telah aku sesat dan menyerah
dalam labirin ini,menuju ke hatimu.




8/1/2009

Singgahsana Kosong

dalam deraian air mata
aku berpaling
melihat singgahsana yang telah kosong.

tarian yang direncat
nafas-nafas iblis
sepertinya engkau menyalahkan aku?

yang melainkan cinta,
tiada apa
tertulis kemi dalam remuknya hati.

Vorteks Dosa

diusik kalbu persada semalam
yang lewat pada persiaran mata
adalah cahaya-cahaya merah
menyimbah deras
wajah sugulku.

seribu rasa,
bergelodak bagai masaknya laut
yang terburu-buru ingin memuntah isinya
menyapu bangkai di tebing alpa
aku yang menghidu;
haruman neraka.

dipisah sipi jurangan nipis
antara darat dan tangga ke langit
tertambat di puing sebatu rantai
kakiku,
dan wajah mendongak tiada daya

rusuk dan rusuk kian bertemu
namun hati, masih diam di situ
disalut malam tanpa rembulan
jeritanku
kini kelabu disadur syaitan

bilakan tiba lagi
putihnya senandung sunyi
yang pernah menyemai benih-benih
di atas lidahku
agar aku yang menunggu
mengukir harap;

turunnya Malaikat mengirim salam
meminta rahmat buat roh tersumpah
kembalinya aku ke simpang
meminta kunci
agar dibuka belenggu kaki
memanjat tangga menuju syurgawi.